Belajar Sekolah
17072018
Hari kedua si bocah sekolah
setelah melalui pagi ini,, sisa hari berasa berat karena saya memikirkan banyak hal
yang jadi garis bawah adalah: bagaimana cara menghadapi si bocah yang tidak mau berinteraksi dengan siapapun di sekolah dan cenderung nempel emaknya sambil nangis
(emak pun sebenarnya pengen ikut nangis)
I wish I knew what is inside your mind kiddo....
jelas hari ini semacam nampar saya, dan yang terus terpikir dan belum bisa hilang di kepala saya adalah: apa cara saya salah? apanya yang salah dari perlakuan saya ke bocah selama ini? lalu bagaimana cara yang benar? (bagi ibu lain, mungkin masalah saya sepele, mungkin ada masalah lain yang lebih besar,, kembali lagi: Allah menguji hamba sesuai dengan kemampuannya)
sama sekali saya nggak bermaksud menjudge si bocah atau apa, kenapa dia nangis, kenapa dia nggak mau ke sekolah, kenapa dia nggak bermain dengan teman2 seperti anak yang lain,,, yang saya pikir cuma satu: apa saya yang selama ini salah mengkonsep aturan parenting??
lalu hari ini tanpa sengaja saya chat dengan teman,, ada banyak hal yang menjadi masukan ke dalam hati dan pikiran saya,, yupp,, parenting nggak melulu dilakukan dengan pikiran, tapi juga dengan........hati.
mungkin itu yang saya lupakan selama hampir 4 tahun usia si bocah.
saya mungkin terlalu sibuk dengan pemikiran: masak apa hari ini, kerjaan dirumah yang belum beres apa, rumah belum rapi, dsb dsb
dan ketika muncul mager, yauda nggak ada yang dikerjakan satu pun
ternyata saya 'mengabaikan' bahwa di rumah ada bocah yang -mungkin- main dengan emaknya, ngobrol,, oh how I really sorry about that kiddo,, kelak ketika kamu dewasa, semoga kamu memaafkan ibumu ini...
kembali ke chat dengan teman, ada beberapa poin yang harus saya ingat mulai dari sekarang, jika nanti punya anak lagi akan terus saya ingat, sekarang pun akan saya lakukan
PERTAMA: selalu doakan anak, karena sejatinya doa ibu itu diijabah.
hal ini tidak pernah putus saya lakukan, dan waktu itu teman saya tanya: apa pernah saya mendoakan anak agar dilembutkan hatinya (karena tipe anaknya dan tipe anak saya sama: agak keras).
well, intinya tidak lupa mendoakan anak apapun itu, bahkan untuk hal yang sekecil-kecilnya.
ajarkan dia pendidikan agama sedini mungkin, kelak dia akan mengingatkan sampai dewasa
KEDUA: menerima dengan ikhlas segala yang ada pada anak dengan segala kelebihan yang diberikan-Nya.
mungkin sering terpikir kenapa anakku begini dan anak orang lain begitu,, jika begitu, cepatlah ber-Istighfar, karena yang sudah diberikan ke kita itu adalah amanah dari Yang Maha Kuasa, InsyaAllah kita bisa menjaganya
KETIGA: apapun kondisi orang tua, anak bisa merasakan.
ini yang sering terjadi, ketika saya kadang terburu waktu (khususnya pagi hari), kadang si anak tu bisa merasakan dan jadi tambah rewel,, yess, si bocah memang bisa sensing gimana kondisi orang tua,, ketika jadi orang tua, maka sudah selayaknya kita mencoba meredam emosi (well, saya pun sampe saat ini masih belajar keras)
KEEMPAT: setiap anak itu spesial.
jadi jangan pernah 'memaksa' si anak untuk melakukan sesuatu dengan membandingkan dengan orang lain, apalagi sampe men-judge anak nakal atau bodoh bila si anak tidak bisa melakukannya
-Naudzubillah min dzalik-
nggak ada itu anak bodoh atau nakal,, hanya kita -orang tua- yang mungkin belum tau apa potensinya
KELIMA: more quality time.
saya masih dalam tahap belajar untuk mendampingi anak, karena sebelumnya mungkin saya terlalu sibuk dengan hobi.
jadi proses si bocah menjadi anak sekolah ini menjadi titik balik bahwa fokus utama saya adalah apa yang dibutuhkan suami dan anak, bukan hanya apa yang saya suka (well, untuk hobi sih tetep jalan tapi bukan prioritas utama)
KEENAM: menata hati.
sering kali bisikan orang itu lebih kuat menggoyahkan hati (ceilah), maksudnya: kadang orang lain berbicara tentang bagaimana mengasuh anak, bagaimana anak ibu A berprestasi, atau kadang orang lain mengkritik kenapa ASI kita sedikit, kenapa anak kita kurus, dsb yang bikin telinga panas.
dulu awal jadi ibu, semua itu bikin telinga dan hati panas, tapi setelah sekian tahun, saya tinggal ngacir aja yang ngomong gitu, karena kembali lagi ke poin keempat: setiap anak itu spesial.
toh saya pun berusaha menjadi ibu yang baik.
jadi,, menjadi ibu itu harus tebel kuping!
Last but not least:
saya akan terus menjadi ibu pembelajar, pun di usia si bocah yang menginjak 4 tahun ini, saya tetap kaget menghadapi si bocah.
intinya adalah si bocah:
- apa yang dia pilih, bukan apa yang kita mau
- apa yang dia ingin lakukan, bukan apa yang baik menurut kita
- tapi tidak terlepas untuk mengenalkan apa yang baik dan yang buruk sesuai agama, memberikan sugesti-sugesti baik bahwa dia anak sholeh, baik, pintar, dsb
Hari kedua si bocah sekolah
setelah melalui pagi ini,, sisa hari berasa berat karena saya memikirkan banyak hal
yang jadi garis bawah adalah: bagaimana cara menghadapi si bocah yang tidak mau berinteraksi dengan siapapun di sekolah dan cenderung nempel emaknya sambil nangis
(emak pun sebenarnya pengen ikut nangis)
I wish I knew what is inside your mind kiddo....
jelas hari ini semacam nampar saya, dan yang terus terpikir dan belum bisa hilang di kepala saya adalah: apa cara saya salah? apanya yang salah dari perlakuan saya ke bocah selama ini? lalu bagaimana cara yang benar? (bagi ibu lain, mungkin masalah saya sepele, mungkin ada masalah lain yang lebih besar,, kembali lagi: Allah menguji hamba sesuai dengan kemampuannya)
sama sekali saya nggak bermaksud menjudge si bocah atau apa, kenapa dia nangis, kenapa dia nggak mau ke sekolah, kenapa dia nggak bermain dengan teman2 seperti anak yang lain,,, yang saya pikir cuma satu: apa saya yang selama ini salah mengkonsep aturan parenting??
lalu hari ini tanpa sengaja saya chat dengan teman,, ada banyak hal yang menjadi masukan ke dalam hati dan pikiran saya,, yupp,, parenting nggak melulu dilakukan dengan pikiran, tapi juga dengan........hati.
mungkin itu yang saya lupakan selama hampir 4 tahun usia si bocah.
saya mungkin terlalu sibuk dengan pemikiran: masak apa hari ini, kerjaan dirumah yang belum beres apa, rumah belum rapi, dsb dsb
dan ketika muncul mager, yauda nggak ada yang dikerjakan satu pun
ternyata saya 'mengabaikan' bahwa di rumah ada bocah yang -mungkin- main dengan emaknya, ngobrol,, oh how I really sorry about that kiddo,, kelak ketika kamu dewasa, semoga kamu memaafkan ibumu ini...
kembali ke chat dengan teman, ada beberapa poin yang harus saya ingat mulai dari sekarang, jika nanti punya anak lagi akan terus saya ingat, sekarang pun akan saya lakukan
PERTAMA: selalu doakan anak, karena sejatinya doa ibu itu diijabah.
hal ini tidak pernah putus saya lakukan, dan waktu itu teman saya tanya: apa pernah saya mendoakan anak agar dilembutkan hatinya (karena tipe anaknya dan tipe anak saya sama: agak keras).
well, intinya tidak lupa mendoakan anak apapun itu, bahkan untuk hal yang sekecil-kecilnya.
ajarkan dia pendidikan agama sedini mungkin, kelak dia akan mengingatkan sampai dewasa
KEDUA: menerima dengan ikhlas segala yang ada pada anak dengan segala kelebihan yang diberikan-Nya.
mungkin sering terpikir kenapa anakku begini dan anak orang lain begitu,, jika begitu, cepatlah ber-Istighfar, karena yang sudah diberikan ke kita itu adalah amanah dari Yang Maha Kuasa, InsyaAllah kita bisa menjaganya
KETIGA: apapun kondisi orang tua, anak bisa merasakan.
ini yang sering terjadi, ketika saya kadang terburu waktu (khususnya pagi hari), kadang si anak tu bisa merasakan dan jadi tambah rewel,, yess, si bocah memang bisa sensing gimana kondisi orang tua,, ketika jadi orang tua, maka sudah selayaknya kita mencoba meredam emosi (well, saya pun sampe saat ini masih belajar keras)
KEEMPAT: setiap anak itu spesial.
jadi jangan pernah 'memaksa' si anak untuk melakukan sesuatu dengan membandingkan dengan orang lain, apalagi sampe men-judge anak nakal atau bodoh bila si anak tidak bisa melakukannya
-Naudzubillah min dzalik-
nggak ada itu anak bodoh atau nakal,, hanya kita -orang tua- yang mungkin belum tau apa potensinya
KELIMA: more quality time.
saya masih dalam tahap belajar untuk mendampingi anak, karena sebelumnya mungkin saya terlalu sibuk dengan hobi.
jadi proses si bocah menjadi anak sekolah ini menjadi titik balik bahwa fokus utama saya adalah apa yang dibutuhkan suami dan anak, bukan hanya apa yang saya suka (well, untuk hobi sih tetep jalan tapi bukan prioritas utama)
KEENAM: menata hati.
sering kali bisikan orang itu lebih kuat menggoyahkan hati (ceilah), maksudnya: kadang orang lain berbicara tentang bagaimana mengasuh anak, bagaimana anak ibu A berprestasi, atau kadang orang lain mengkritik kenapa ASI kita sedikit, kenapa anak kita kurus, dsb yang bikin telinga panas.
dulu awal jadi ibu, semua itu bikin telinga dan hati panas, tapi setelah sekian tahun, saya tinggal ngacir aja yang ngomong gitu, karena kembali lagi ke poin keempat: setiap anak itu spesial.
toh saya pun berusaha menjadi ibu yang baik.
jadi,, menjadi ibu itu harus tebel kuping!
Last but not least:
saya akan terus menjadi ibu pembelajar, pun di usia si bocah yang menginjak 4 tahun ini, saya tetap kaget menghadapi si bocah.
intinya adalah si bocah:
- apa yang dia pilih, bukan apa yang kita mau
- apa yang dia ingin lakukan, bukan apa yang baik menurut kita
- tapi tidak terlepas untuk mengenalkan apa yang baik dan yang buruk sesuai agama, memberikan sugesti-sugesti baik bahwa dia anak sholeh, baik, pintar, dsb

Comments
Post a Comment
keep your mind here...